​KPA Warning Bahaya HIV/AIDS ke Tokoh Masyarakat 

PADAMARA – Komisi Penanggulangan HIV/AIDS (KPA) Kabupaten Purbalingga mengingatkan bahayanya virus Human Immunodeficiency Virus (HIV), serta pentingnya pencegahan penyebarannya. Hal tersebut disampaikan saat sehabis upacara pengibaran bendera, Kamis (17/11) dihadapan  Anggota Muspika, Kadinas Tk Kecamatan, Kepala Desa/Kelurahan, Kaur Kesra, Bidan desa, Tokoh Masyarakat, Kader PKK, dan Remaja se Wilayah Kecamatan Padamara.

Dalam sosialisasi tersebut, juga disampaikan pencegahan dan penanggulangan HIV / AIDS. Menurut Heny Prianto, Ketua KPA Kabupaten Purbalingga, Angka ODHA (Orang dengan HIV/AIDS) mengalami peningkatan yang sangat drastis dari tahun ke tahun.
“Dari tahun 2010 sebanyak 2 orang menjadi 169 orang di tahun 2016. Hal ini perlu menjadi perhatian banyak pihak, sehingga setelah acara sosialisasi ini bisa di sebarluaskan ke masyarakat di masing-masing desa,” kata Heny.
Ia juga menyampaikan kepada mereka, bahwa ODHA tidak selayaknya disingkirkan dalam kehidupan sosial. “ODHA tidak ada bedanya dengan kita, mereka juga mempunyai hak, keuntungan dan kesempatan yang sama dengan orang yang menderita penyakit serius lainnya” ungkapnya.

 “ODHA tidak ada bedanya dengan kita, mereka juga mempunyai hak, keuntungan dan kesempatan yang sama dengan orang yang menderita penyakit serius lainnya” ungkapnya.

Seperti yang diketahui, HIV adalah Virus yang melemahkan sistem kekebalan tubuh (sel darah putih), sehingga menyebabkan AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome) yaitu kumpulan beberapa gejala akibat menurunnya sistem kekebalan tubuh.
“Sampai saat ini AIDS belum ada obatnya, sehingga yang perlu kita lakukan adalah melakukan pencegahan,” ungkap Heny.
Disampaikannya, ada beberapa cara mencegah penularan HIV diantaranya :

A. Anda tidak melakukan seks sebelum menikah

B. Bersikap saling setia dengan pasangan

C. Cegah dengan memakai kondom

D. Drugs, jangan menggunakan narkoba suntik

E. Edukasi, aktif mencari informasi HIV secara benar.
HIV menular melalui :

1. cairan darah, menggunakan jarum suntik secara bergantian,bekas pakai dan tidak steril

2. Cairan kelamin, hubungan seks berganti-ganti pasangan

3. Air susu Ibu, dari Ibu ke bayi melalui proses, hamil, melahirkan, dan menyusui
HIV tidak menular melalui :

1. Gigitan nyamuk atau serangga lain

2. Bersalaman, pelukan atau ciuman

3. Berenang bersama

4. Terpapar batuk atau bersin

5. Memakai toilet bersama

6. Berbagi makanan atau menggunakan alat makan bersama
Status HIV hanya dapat diketahui melalui konseling dan testing HIV Sukarela,  yang dilakukan dengan prinsip tanpa paksaan, rahasia, tidak membeda-bedakan serta terjamin kualitasnya.
“Sehingga bagi yang merasa kegiatan kesehariannya rawan tertular HIV untuk tidak segan memeriksakan diri,” himbaunya.
Testing HIV merupakan pengambilan sample darah dan pemeriksaan laboratorium disertai konseling pre dan pasca testing HIV. Saat ini, kata dia bisa dilakukan pemeriksaan di Puskesmas / Rumah Sakit secara gratis bagi masyarakat yang ingin mengecek apakah terkena HIV atau tidak.
Heny juga menjelaskan Penanganan Jenazah pengidap HIV/AIDS pun tidak dilakukan sembarangan, harus penanganan khusus oleh rumah sakit. bahkan harus menggunakan sarung tangan 3 lapis, lengan panjang, sepatu boot dan penutup kepala khusus. Selain itu penguburan jenazah juga menggunakan kain kafan yang dilapisi plastik. (Bang_Nur)

5 comments

  1. Musti dikuatkan prinsip inklusi sosial di desa. ODHA harus dipandang sebagai kelompok yang rentan didiskriminasikan akibat ketidaktahuan masyarakat atas penyebaran virus itu. Akhirnya, para korban menjadi kelompok masyarakat yqng terkucilkan.

  2. Stigma negatif terhadap penyakit ini, membuat penderitanya terpinggirkan. Padahal mereka sangat butuh pendampingan.
    Sosialisasi seperti ini harus terus digalakan, Lanjut kang..!

  3. Ralat, nama Ketua Komisi Perlindungan Aids Purbalingga Heny Ruslanto, bukan Heny Prianto

  4. Lindungi orang terdekat kita dari bahaya HIV/AIDS..

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *