BKM Pinang Jaya Belajar Rahasia Kelola Sampah ke Sleman

Pengelolaan sampah mandiri kampung sukunan
Pengelolaan sampah mandiri kampung sukunan

PADAMARA – Guna menyambut Program KOTAKU (Kota Tanpa Kumuh) BKM PINANG JAYA bersama Pemerintah Desa Karangjambe melakukan Study Banding mengenai Pengelolaan Sampah Mandiri di Kampung Wisata Lingkungan Sukunan Desa Banyuraden Kec. Gamping, Kab. Sleman, DIY (19/3).

Program KOTAKU yang merupakan program pencegahan dan peningkatan kualitas permukiman kumuh nasional. Hal ini juga merupakan penjabaran dari pelaksanaan Rencana Strategis Direktorat Jenderal Cipta Karya tahun 2015 – 2019.

Harto selaku pengurus pengelolaan Sampah Mandiri mengatakan bahwa Sukunan mulai Swakelola Sampah pada 19 Januari 2004 silam. Ia menjelaskan, pengelolaan Sampah Mandiri yaitu Penanganan sampah yang direncanakan, dilaksanakan, dikembangkan dan dijaga kelangsungannya oleh masyarakat/kelompok (masyarakat: RT/RW/kampung/dusun, dll).

“Prinsip Pengelolaan sampah secara mandiri dan produktif di Sukunan,yaitu sampah dipilah berdasarkan jenisnya,” tuturnya.

Lebih rinci ia memaparkan
1. Sampah yang laku dijual dikumpulkan dan dijual bersama
2. Sampah yang dapat diolah oleh masyarakat dimanfaatkan kemudian dijadikan produk dan dijual
3. Sampah tidak laku jual dan tidak dapat diolah masyarakat, dikurangi dan dibatasi, diserahkan ke TPA / Pemerintah.

Pengelolaan sampah mandiri kampung sukunan
Pengelolaan sampah mandiri kampung sukunan

Untuk menerapkan sistem swakelola sampah, kata dia, kita harus mengubah terlebih dahulu persepsi kita tentang sampah. “Prinsip yang harus ditanamkan yaitu mengubah pandangan kita dari konsep ‘membuang’ di alihkan ke konsep ‘mengelola’,” imbuhnya.

Menurut Harto, yang menentukan dari keberhasilan program ini ialah kekompakan, niat, dan motivasi dari Tim Pengelola Sampah, tokoh masyarakat serta masyarakat itu sendiri. Hingga saat ini masyarakat Sukunan masih menikmati hasil nyata dari swakelola sampah Kampung Sukunan. Dalam studi banding itu tampak selain masyarakat dapat memanfaatkan kompos hasil olahan sendiri, pendapatan kampung juga meningkat dari hasil penjualan sampah.

Dalam penuturannya, Harto menjelaskan bahwa keuntungan ekonomi hanyalah salah satu sarana untuk memancing kesadaran masyarakat. Ada banyak keuntungan yang diperolah dari sistem swakelola sampah ini. Dari aspek sosial misalnya,mampu menciptakan hubungan harmonis diantara pelbagai elemen masyarakat.

“Dari aspek agama juga sebagai sarana penyadaran akan tangungjawab manusia kepada Tuhan yang telah menyediakan Alam,” ujar Harto.

Koordinator BKM meninjau pengolahan ipal komunal
Koordinator BKM meninjau pengolahan ipal komunal

Demikian juga keuntungan dalam aspek kesehatan. Sampah-sampah di Kampung Sukunan berubah menjadi barang yang berguna. Yang paling penting, sistem swakelola ini bisa memacu daya kreatifitas dan kemandirian masyarakat. Dengan demikian, masyarakat benar-benar memiliki daya untuk mengurus dan mengembangkan dirinya. Inilah kenapa swakelola sampah menjadi layak dicontoh oleh daerah-daerah lain. Dengan diadakannya Study Banding mengenai pengelolaan sampah mandiri ini Pemerintah Desa Karangjambe beserta BKM Pinang Jaya bekerja sama untuk menanggulangi sampah di Desa Karangjambe, sehingga diharapkan lingkungan menjadi lebih asri dan sehat. (Bang_Nur/Ganda)

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *